Tuesday, July 31, 2012

Snob

Kafein. Saya suka dengannya – baik yang terdapat di teh, apalagi kopi. Dan saya suka menikmatinya di dalam cangkir atau mug dalam suasana hangat: karena airnya panas, cuaca sejuk dan banyak orang lalu lalang. Jika di rumah, saya meminumnya di teras atau di meja kerja yang menghadap jalan depan rumah. Saya bisa melihat dari tukang sampah, nenek penjual gorengan, dan gadis penjual jamu gendongan yang kini memakai rok jins. Kalau di Yogya, saya akan nongkrong di warung angkringan dan ngobrol dengan tukang becak dan Pak Guru – sahabat saya yang mengajar di Kolese De Britto. Kalau di mall, saya akan memilih cafe yang punya kursi yang menghadap gang. Intinya, saya suka sekali mengamati orang yang lalu-lalang.
Jadi, saya tak tahu, apakah saya kecanduan kafein atau addicted to observe somebody.

***


Seperti biasa, siang itu walau belum makan siang, saya mampir ke cafe di sebuah mall baru di kawasan Jakarta Selatan – yang persis sebelah kirinya juga mall yang tak kalah mentereng dan tanah kosong di sebelah kanannya tengah dibangun mall yang katanya bakal kelar pada Lebaran tahun ini. Boleh jadi, itu bagian dari usaha Indonesia untuk meraih Guinness World Records sebagai negara yang paling banyak memiliki mall.
Waitress cafe itu tersenyum kepada saya, dan mempersilahkan saya duduk di meja yang entah ke berapa ratus telah saya duduki. Saya membuka laptop dan segera tersambung ke dunia Web. Tetapi, masih seperti biasa, kedua telinga saya sengaja mendengarkan obrolan di meja-meja lain, dan ujung mata saya mencuri pandang siapa saja yang tengah mengobrol.
Tiga orang ibu yang berumur akhir 20-an, tiga orang baby sitter – yang dua berseragam biru muda dan satu berbaju pink – dan tiga orang balita. Yang dua montok, dan yang satu, saya yakin, kelebihan berat badan. Ketiganya didudukkan di stroller. Sesekali, jika rewel, sang baby sitter menggendongnya atau mengajaknya berjalan-jalan.
Ibu-ibu muda itu kemudian mengeluarkan laptop masing-masing; semuanya merek-merek yang punya model dan warna yang disukai perempuan. Ibu yang membawa ruffle duffel bag Ossie Clark berwarna biru kemudian dengan cepat mengetikkan sesuatu – yang dari percakapan berikutnya baru saya ketahui kalau ia memiliki blog tentang parenting. Kawan di depannya yang rambutnya tak kalah cantiknya – saya hanya bisa melihat punggungnya karena ia membelakangi saya – asyik berbalas-balasan dengan Yahoo Messenger dan sekaligus membukai Facebook. Sedangkan perempuan di ujung meja yang mengenakan hand printed dress kombinasi warna hitam dan biru karya disainer Anna Sui lebih banyak mengomentari apa yang tengah ditulis dan dibaca oleh kedua temannya. Dari dialah, sesungguhnya, saya berhasil menguping; termasuk apa saja makanan kesukaan mereka.
***

Kebetulan, dua orang kawan saya yang seharusnya menemui saya siang itu, masih terjebak kemacetan. Saya terpaksa menunggu lebih lama – tambah hampir dua jam. Namun saya mensyukurinya karena ‘informasi’ yang saya peroleh dari ketiga perempuan cantik itu makin lengkap.
Mereka pun akhirnya beranjak hendak meninggalkan cafe itu. Bukan hendak pulang, melainkan kembali berbelanja. Rupanya, selain untuk makan siang, mereka rupanya hendak mengistirahatkan kaki-kaki jenjang mereka yang lelah.
Tepat dua setengah jam saya ‘mengenal’ mereka dan ‘keluarga’nya: ketiga baby sitter yang cakap dan tiga balita yang ‘tenang.’ Dua setengah jam pula saya melihat tiga ibu muda yang tak sedetik pun memandang, apalagi mengelus, lebih-lebih menggendong anaknya. n Dono Baswardono (dono.baswardono@gmail.com)

No comments: