Sebagian besar problem psikologis bersumber dari relasi pribadi dengan orang-orang terdekat. Misalnya, hubungan dengan mertua, hubungan dengan pasangan sendiri, hubungan dengan anak-anak.
Sebagian besar masalah itu bisa dikurangi atau bahkan dicegah. Salah satu caranya adalah mengamati dengan seksama perilaku pacar atau tunangan (Kalau Anda ortu dari seorang remaja, ya perilaku pacar anak Anda).
Perilaku itu ada dua, yang overt (tampak nyata) dan yang covert (yang tidak tampak namun bisa disimpulkan). Nah, jauh lebih penting memperhatikan yang covert, karena mencerminkan sekaligus alam sadar dan bawah sadar. Ini lebih asli. Sementara perilaku overt bisa saja dibuat-buat, direncanakan, diperhalus, dsb, karena memang sedang masa pacaran - masa untuk membuat tertarik seseorang dan lingkungannya.
Dengan mengamati perilaku covert, sekian bulan atau tahun kemudian, kita tak perlu bicara, "Hlo koq berubah ya? Dulu dia tidak begitu." Besar kemungkinan, dia memang dari dulu seperti itu, hanya saja mata kita tak awas, pikiran kita tertutup kabut, jiwa kita mabuk.
Bisa saja, pada saat pacaran ia tampak penyabar, namun sehari setelah pesta pernikahan saja, ia sudah marah. Dan seminggu kemudian sudah memukul.
Jadi, bagaimana cara mengamati perilaku covert itu? Susahkah? Sama sekali tidak. Hanya dibutuhkan pikiran yang mau bernalar lebih panjang saja. Hari misalnya, dikenal oleh pacar dan seluruh keluarganya sebagai pria periang karena suka bercanda. Tetapi tunggu dulu. Coba amati lebih dalam, bukankah pada saat kita bicara serius, ia juga meresponnya dengan bercanda? Belum selesai saya bicara soal, pentingnya kepedulian ayah pada anaknya, ia bereaksi dengan guyonan soal itu. Juga ketika saya bicara tentang teladan kejujuran ayah, belum ada setengah detik, ia membalasnya dengan candaan. Pacarnya, Shanti, yang sama-sama remaja sih senang dan makin cinta karena Hari selalu membuat suasana hatinya gembira. Namun, setelah menikah, Hari tak mau mengantar anaknya sekolah. Dan ternyata, Hari juga suka berbohong kepada Shanti, mulai soal lembur, kongkow-kongkownya dengan teman-teman lamanya, sampai soal jumlah gaji dan akhirnya perselingkuhannya.
Apakah Hari berubah? Tidak! Dari dulu ia memang orang yang tak bertanggung jawab - itu sebabnya ia tidak bisa diajak bicara serius. Dalam hal ini, bercanda adalah pertanda (perilaku covert) dari sifat suka lari dari tanggung jawab. Bercanda di sini juga sinyal atas mudahnya ia membohongi diri sendiri dan orang lain. Bercandanya Hari sesungguhnya adalah benteng atau yopeng atau kompensasi dari kurangnya rasa percaya dirinya.
Dan mari kita berkenalan dengan Bima yang bertunangan dengan Febby. Ia jelas bukan tentara atau polisi atau satpam karena tubuhnya kecil, kerempeng. Namun menurut Febby, Bima berhati besar. Ia selalu menjemput saat Febby pulang kuliah, dengan jip BMWnya yang gagah. Ia selalu menggandeng lengan Febby erat-erat, atau merangkulnya ketika melewati teman-teman Febby, apalagi jika ada cowok lain di sana. Bima pula yang antre membeli tiket bioskop dan menentukan film apa yang bakal mereka tonton. Membayar makanan dan memesan makanan di restoran, Bima pula yang melakukan - termasuk menentukan menu yang akan Febby makan. Febby yang sedari kecil ditinggal papanya kawin lagi tanpa menceraikan mamanya, merasa mendapat berkat luar biasa mendapatkan lelaki yang melindungi dan memperhatikan dirinya.
Kenyataannya? Bahkan pada malam pertama saja, Febby menangis berjam-jam - meski hanya dalam hati. Bima menuduhnya tak perawan karena sprei tidak berdarah. Keesokan harinya, Bima menghilang. Seminggu kemudian baru muncul dengan mulut bau bir. Dan itu pula hari pertama Febby ditampar. Febby menganggapnya sebagai wajar karena hati Bima masih kesal. Namun, tamparan makin sering mendarat, juga tendangan dan pukulan.
Setelah itu Febby baru mengingat-ngingat perilaku Bima saat pacaran yang sesungguhnya bisa dijadikan pertanda bahwa ia bisa melakukan kekerasan. Setiap kali diskusi, Bima tak mau dibantah. Saat menyetir mobil, ia lebih sering ngebut, dan balas membalap jika ada mobil lain melewatinya. Bahkan di tempat parkir pun ia tak bisa pelan. Bima juga suka mengomel jika waiter terlambat mengantarkan makanan. Komentar Bima pada lelaki lain - setinggi apa pun jabatan dan prestasinya - selalu merendahkan. Dan...otot tangannya kerap menegang saat berbantahan dengan siapa pun. Posisi kepalanya jadi kaku karena lehernya juga menegang.
Nasi Telah Jadi Bubur?
"Kami sudah terlanjur menikah. Kami saling mencintai. Saya percaya, cinta akan mengubah dirinya. Waktu akan memperbaikinya menjadi pribadi yang lebih sehat dan matang."
Itulah kalimat yang sering dijadikan alasan untuk terus mempertahankan perkawinan. Juga alasan agama dan takdir. Namun, jangan lupa, siapa yang bertahan? Korban. Sementara si pelaku terus menyerang. Sampai kapan sanggup bertahan? Sampai kapan hidup dalam kepura-puraan? Betulkah itu bentuk dari kesabaran? Ataukah mau berdalih bahwa itu adalah salah satu bentuk rasa syukur? Jangan-jangan itu adalah kebebalan.
Nasi tak pernah menjadi bubur - kecuali Anda sendiri yang berniat memasak bubur. (tentang ini, saya akan tulis di kesempatan lain).
Oh ya, sebelum salam damai sejahtera saya ucapkan, pertanyaan saya adalah, "Jika Anda sebagai orangtua atau saudara sudah melihat perilaku covert yang negatif dari calon suami/istri anak/saudara Anda, apa yang Anda lakukan?" Apakah Anda juga termasuk yang mengatakan. "Bagaimana lagi, mereka sudah saling mencintai?" (oh ya, ingatkan saya untuk bicara soal apa sebenarnya cinta itu di dalam rumah tangga, pada tulisan yang lain.)
Semoga akhir pekan Anda penuh kasih :)
Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA. Ph.D - Marriage & Family Therapist
Untuk konsultasi pranikah, silahkan hubungi Intan di 0813-1641-0088.
