Tuesday, July 17, 2012

LOVENOMI

LOVENOMI




“Berapa besar cintamu kepadaku Mas?” tanya seorang istri sambil membaringkan kepalanya di pangkuan suaminya. “Wah, tak bisa diukur,” jawab lelaki itu dengan enggan dan tak mau mengalihkan matanya dari berita pertarungan pemilihan Calon Presiden di koran yang tengah dibacanya. “Sebesar gunung Pangrango?” rajuk perempuan itu. Sambil menarik nafas panjang dan sedikit menggeserkan korannya, pria berotot itu menimpali, “Cinta tak bisa diukur, kau tahu... Tuh, anakmu bangun. Susui sana!” Suara tangis bayi melengking, seakan memanggil orang-orang terkasih untuk datang. Tak sampai lima detik, suara tinggi itu berhenti, dan pria itu kembali tenggelam dalam arus ribuan huruf.
Tiga belas tahun kemudian, pasangan itu telah memiliki tiga anak. Lima malam dalam seminggu, rumah itu ditiduri empat orang, setelah sang Ibu pulang dari kantor. Dan pada akhir pekan barulah lengkap menjadi lima orang, bila sang ayah pulang dari perjalanan bisnisnya sebagai wiraniaga – menjual karpet dari satu kota ke kota lain.
Tepat setelah Hari Pahlawan, sang istri ingin membuat pesta ulang tahun kejutan bagi lelaki yang bukan hanya setia, tetapi juga penuh pengabdian pada keluarga itu. “Yang telah menghabiskan hampir semua waktunya untuk mencari nafkah bagi keluarga ini,” begitu ia memuji suaminya di hadapan para sahabat dan keluarga yang meramaikan halaman mungil mereka.
Usai makan siang mereka bercengkerama, dan sang ayah ingin membanggakan ketiga anaknya di hadapan tetamu. Si bungsu perempuan tak pernah lepas dari pangkuannya, dan kedua anak lelakinya yang beranjak remaja terus menerus duduk di kedua sampingnya. Sesekali kedua tangannya merentang, merangkul mereka. Menoleh ke kanan, ia bertanya kepada si sulung yang sudah kelas enam SD, “Apa cita-citamu nak?”
“Sopir truk!” jawabnya dengan lantang dan mimik penuh kebanggaan.
Semua tamu yang mendengarnya terdiam, sementara muka sang ayah memerah.
Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya, ia mengulang jawaban anaknya, “Sopir truk? Bukan dokter atau insinyur?”
“Ya, sopir truk!” bahkan kini senyum paling manis terkembang di bibir anak lelaki itu.
“Mengapa?” tanya ayahnya dengan suara bergetar yang dipenuhi rasa khawatir.
“Supaya aku bisa berlama-lama bersama ayah. Ke mana pun ayah pergi, aku akan antar ayah.”
Hening. Bahkan kupu-kupu pun berhenti berkepak.
***

Tiga puluh lima tahun kemudian, keriput menghiasi seluruh jengkal kulit pria itu. Punggungnya tak tegap lagi. Istrinya tak lagi bisa bersandar di dadanya; bahkan, boleh jadi, telah belasan tahun tak lagi melakukannya. Ia bersimpuh, menekuk lututnya, berdoa kepada Sang Mahakasih. “Allah, aku rindu akan anak-anakku. Aku ingin mendengar tawa mereka. Aku ingin melihat senyum mereka. Lebaran kemarin, juga lebaran sebelumnya, mereka tak datang ke rumah ini. Apa salahku, ya Tuhan, hingga mereka memperlakukanku seperti ini? Telah kuhabiskan seluruh waktuku agar mereka bisa makan enak, berbaju bagus, naik mobil, dan semua telah menjadi sarjana lulusan luar negeri, namun mengapa mereka bahkan tak mau menelponku?”
Dinding kamar membisu, lembab. Basah oleh air mata.
***

Lovenomi. Ekonomi cinta. Ya, semua menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang tak bisa diukur. Tetapi mengapa 13 tahun, 20 tahun, dan bahkan 60 tahun masa kehidupan kita habiskan untuk menjejerkan mobil di garasi, lemari penuh baju pesta dan kerja namun nyaris tak satu pun pakaian tercoret spidol anak-anak, rak dengan puluhan bahkan ratusan sepatu tetapi bahkan sepatu kets pun tidak bernoda lumpur, halaman dipenuhi dengan pot tanaman berdaun seharga puluhan juta Rupiah yang membuat Anda membentak anak-anak jika lewat di dekatnya, dan kulkas penuh makanan hingga dagingnya tak lagi segar bila dibikin soto sulung kesukaan si bungsu?
Kita bilang kita cinta si sulung maka kita sekolahkan dia ke sekolah terbaik, kita masukkan dia ke kursus macam-macam, kita sediakan sopir dan mobil khusus untuk mengantar jemput dirinya. Apatah itu bukan timbangan cinta kita? Dan si sulung menghitung dalam hati, “Sepanjang aku sekolah, dari SD sampai doktor, hanya 27 jam ayah bersamaku: masing-masing setengah jam setiap kali mengambil rapor SD, SMP dan SMA, dan masing-masing satu jam menghadiri wisuda.”
“Kami tak membeda-bedakan cinta,” begitu semua orangtua menegaskan. Maka, si tengah dan si bungsu pun mendapatkan kasih sayang yang melimpah ruah: sepatu branded, buku komik dan pengetahuan yang memadati lemari kamarnya, dan meja makan yang berlimpah. Dan si bungsu menera, dari dasar hatinya, “Berapa meter sepatu itu kulangkahkan bersama-sama ibu dan ayah? Berapa lembar halaman buku yang kubaca bersama dengan ibu dan ayah? Berapa piring makanan yang kuhabiskan bersama ibu dan ayah?”
***

Kebanyakan orang memiliki rentang karir antara 40 sampai 60 tahun. Kebanyakan ahli manajemen sependapat bahwa rata-rata pendapatan orang di paruh kedua karirnya mencapai hampir dua kali lipat dari yang diperolehnya pada paruh pertama.
Sebagai perbandingan, orangtua biasanya hanya mempunyai 20 hingga 25 tahun “berperan aktif sebagai orangtua.”
Meskipun begitu, kebanyakan orang memilih untuk lebih menekankan pada pekerjaannya selama paruh pertama karirnya, daripada fokus pada keluarganya. Itu artinya, ia mengorbankan anak-anak dan keluarganya, padahal tidak terlalu banyak kemajuan dalam karirnya.
Bagaimana kalau Anda menimbang alternatif lain? Fokuskan pada keluarga Anda selama 20 tahun pertama karir Anda, baru kemudian kerahkan seluruh waktu dan energi Anda untuk bekerja, setelah Anda lebih bijaksana, lebih terampil, dan paling produktif!
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D

No comments: