5 Cara Gampang Memilih Caleg dan (Cabup, Cagub) Capres
Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk menonton sinetron? Atau gosip artis? Paling tidak 90 menit kita habiskan untuk menonton satu pertandingan Liga Champion di TV berbayar. Tetapi, mari bertanya kepada diri sendiri, berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk memperhatikan iklan partai, iklan caleg, atau menimbang-nimbang janji-janji mereka?
Kalau kita memang peduli pada masa depan negeri ini, pls read them carefully! Lima atau sepuluh menit dari waktu Anda akan sangat menentukan masa depan kita semua.
Nah, selama sepuluh menit itu, apa saja yang musti kita tanyakan?
1. Apakah si calon (legislator, bupati, gubernur atau presiden) memiliki segudang kebijaksanaan dan penalaran untuk duduk di Senayan atau Istana? Ragam dan kualitas pengalaman seperti apa yang ia miliki? Apakah tiap calon itu mempunyai kecakapan-kecakapan baru dan penting, pendidikan dan pengalaman yang komplementer dibandingkan dengan calon yang sekarang tengah berkuasa?
2. Apakah pesan kampanye si calon ini sungguh-sungguh mencerminkan rencana-rencana kebijakannya? Apakah kebijakan-kebijakannya yang disampaikan melalui media (cetak, radio, selebaran, iklan, dll) itu memungkinkan kita untuk menimbang-nimbangnya sebagai kebijakan yang realistis? Apakah rencana kebijakan-kebijakannya itu sudah memperhatikan persoalan-persoalan yang menurut Anda penting, baik bagi Anda sendiri maupun bagi negeri ini? Apakah pesan kampanye dan kebijakannya itu cukup terinci sehingga kita bisa mengevaluasinya dengan baik, dan membandingkannya dengan proposal dari calon lainnya?
3. Apakah calon ini menyajikan pandangannya, misinya, kebijakan-kebijakannya, dan posisinya secara gamblang dan konsisten? Apakah ia teguh pada pesan utamanya?
4. Bagaimana cara calon ini mencitrakan dirinya kepada publik? Apakah pidato-pidatonya, wawancaranya, dan iklan-iklannya berdasarkan fakta-fakta? Atau, apakah informasinya disampaikan kepada publik secara kabur, tidak fair, tidak akurat, atau negatif? Apakah ia sudah menghindari pesan-pesan yang berdasar pada stereotip, kebencian, dan pemecah-belahan kultural?
5. Tidak peduli seberapa sinisnya Anda (juga saya), sudahkah kita bertindak untuk mencerminkan betapa beruntungnya kita karena telah menjadi warga negara Republik Indonesia? Sudahkah kita berusaha keras agar “melek” pemilu, agar menjadi warga negara yang “sadar” yang mau meluangkan sedikit waktu untuk menilai tiap calon secara cermat dan hati-hati: menimbang latar belakangnya, memeriksa rekam jejaknya, menilai perilakunya, dan mengevaluasi kebijakan-kebijakannya? Apakah kita siap untuk memberikan suara berdasarkan pemikiran, kesadaran dan niat jujur?
Selamat memilih.
Dr. Dono Baswardono, MA, Ph.D - Communication Strategist
No comments:
Post a Comment