Monday, August 24, 2009

MARAH

MARAH

“Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” – Yakobus 1:20

Kemarin saya diundang makan larut malam oleh seorang kawan lama yang kini telah supersukses – jika ukurannya materi. Karena kantornya di pinggir selatan kota, saya di pusat kota, sementara lokasi restorannya di ujung utara, maka dia menjemput saya. Saat keluar pelataran gedung perkantoran saya, rupanya petugas parkir agak lamban sehingga palang pintu tak juga mengangkat sementara kawan saya sudah terlanjur menggerakkan mobilnya. Meski palang itu masih sekitar sepuluh centimeter dari kemilau bodi BMW X-5 – berkat kesigapan kaki kanan kawan saya untuk menginjak pedal rem – tak ayal gunung kemarahan kawan saya terlanjur meletus. Dibukanya jendela pintu mobilnya, dan sejuta sumpah serapah khas Suroboyo-an menguar ke segala penjuru udara. Dan kebetulan petugas parkir itu mukanya lugu – dan saya kira memang karakternya lugu – sehingga parasnya menampakkan rasa tak bersalah. Memandang wajah yang menurut saya teduh itu, kawan saya makin terbakar amarahnya, hingga ia hendak turun dari mobil.

Saya menyentuh lengannya dan berkata, “Kita sudah ditunggu kawan-kawan.” Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali menyetir dengan ‘gaya’ yang membuat saya terpaksa mencengkeramkan kedua tangan saya – diam-diam – di pinggiran jok, walau safety belt sudah terpasang kencang. Sepanjang perjalanan yang kira-kira setengah jam itu tak henti-hentinya ia mengumpat dan mengatai-ngatai petugas parkir itu, sekretarisnya, karyawannya, bahkan istrinya. Segala persoalan yang tak pernah dan tak perlu saya ketahui, ia ungkit-ungkit. Saya bersyukur, hubungan kami selama ini baik-baik saja, sehingga saya tak perlu batal makan lobster bakar.

***

Kita punya puluhan jenis perasaan. Tetapi hanya satu yang kecepatan menyalanya bahkan lebih cepat daripada bom, apalagi kalau dibandingkan dengan dinamit bersumbu panjang. Ya, kemarahan sangat mudah terbakar.

Coba saja cinta; bahkan cinta pada pandangan pertama. Sesingkat-singkatnya, perlu waktu beberapa menit; dari memandangi wajahnya sampai ketika hati Anda mulai dirambati rasa senang dan akhirnya berubah menjadi suka cita yang tak tergambarkan. Lagi pula, sepanjang kehidupan Anda, tentu baru satu-dua kali saja merasakannya.

Kebahagiaan? Oh, lebih lama lagi merasakannya. Mungkin perlu waktu berjam-jam, bahkan berbulan-bulan untuk bisa merasakannya.

Bagaimana dengan kesedihan? Juga perlu waktu untuk tumbuh di dalam hati kita. Bahkan, jika kita mendengar berita kematian orang yang paling kita cintai sekali pun. Pertama-tama, malah bukan rasa sedih, tetapi kaget, tak percaya, bahkan penyangkalan, sebelum akhirnya kesedihan itu mengeloni diri Anda.

Tetapi amarah memang lain. Ia sungguh-sungguh jenis ‘binatang’ lain. Anak Anda secara naluriah memegang pajangan berwarna merah menyala di sebuah toko, dan Anda langsung membentaknya. Lidah Anda merasakan tahu goreng yang terlalu asin dan telinga pembantu pun langsung berdengung mendengar kemarahan Anda. Suami atau istri mengucapkan sesuatu yang menurut Anda salah, bahkan jika hanya mengomentari sesuatu di televisi, maka gunung Semeru yang ada di dalam diri Anda mendadak meletus tanpa memberi amaran sama sekali.

Amarah punya kekhasan lain lagi: begitu meledak, sangat sulit menyumbatnya. Ia benar-benar bagai kawah yang lebar. Satu kata umpatan, seperti “J....k,” dengan superkilat diikuti oleh ribuan serapah, dan kata-kata bertekanan tinggi lainnya. Bahkan fisik Anda pun dengan supercepat diubahnya: detak jantung permenit bahkan mengalahkan seorang sprinter, nafas terengah-engah, mata memerah, bahkan badan Anda gemetar. Saat kemarahan mereda, Anda bahkan merasa sangat letih. Anda terduduk lesu, memandangi sekitar, melihat dengan mata sehat segala dampak dan efek samping kemarahan Anda – yang bisa membuat Anda menyesal, tetapi juga sebaliknya, bisa membuat Anda semakin dendam kepada pihak-pihak yang Anda anggap sebagai pemicu kemarahan Anda. Dan dendam ini bahkan bisa berlangsung puluhan tahun!

***

Sebagai konsultan, saya kerap menyaksikan ‘atasan’ – dari level tertinggi sampai terbawah – menembakkan senapan otomatis kemarahannya. Ternyata, kemarahan mereka itu sangat mempengaruhi kinerja perusahaan/organisasinya. Bahkan, dampaknya bisa diukur. Intinya, kemarahan, menimbulkan kerugian jutaan, bahkan miliaran Rupiah.

Sebagai konselor dan psikoanalis, sudah ratusan kali saya melihat hubungan retak, bahkan pecah berantakan akibat rasa marah yang tak terkendali. Hubungan istri dan suaminya, orangtua dengan anaknya, antarsaudara, juga dengan tetangga dan masyarakat. Ya, masyarakat kita memang bersumbu pendek – sejarah kita sangat penuh dengan kekerasan.

***

Tuhan tidak pernah melarang kita marah. Karena jika itu dilakukannya, sama saja dengan Ia melarang kita bernafas. Sama saja dengan Ia mengingkari karya ciptaNya sendiri.

Dia hanya meminta kita agar lamban dalam marah. Agar sumbu kita perpanjang. Ia meminta kita untuk mengendalikan amarah. Dan Dia sangat senang bila kita sanggup mengendalikan berkat perasaan yang Ia hadiahkan spesial buat kita itu.

Dia tahu kalau kita manusia biasa yang Ia lengkapi dengan rasa marah. Tetapi kalau kita menggunakan berkat-berkat kita yang lain, maka kemarahan itu bisa dikendalikan. Pergunakan telinga dan nurani kita: dengarkan dulu apa yang dikatakan orang sampai selesai, sebelum kita mengemukakan pendapat; dengarkan penjelasan anak sampai tuntas, sebelum menjatuhkan cap negatif ke dalam pikirannya; buka lebar-lebar hati kita seperti kita dulu membuka hati saat jatuh cinta kepada pasangan kita, sebelum menyerocoskan kata-kata yang lebih tajam dari pisau yang akan melukai dan meninggalkan borok di hatinya. DB

No comments: