Wednesday, August 8, 2012

19 Trik Cerdik Berlibur ke Luar Negeri

19 Trik Cerdik Berlibur ke Luar Negeri



Jika Anda sekeluarga hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, berbagai persiapan musti dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Agar perjalanan Anda berjalan lancar, ikuti tips di bawah ini:
- Pelajari negara yang akan didatangi. Anda bisa mendapat info dari brosur, situs internet, data biro perjalanan atau teman-teman yang pernah tinggal di sana. Minimal tahu letak geografis negara tersebut. Lalu pilih lokasi wisata yang akan dikunjungi, seperti “Taman Tulip Keukenholf Belanda” atau lainnya.
- Kenali mata uang setempat dan buat perbandingan dengan uang rupiah dan dolar. Lalu konfirmasikan apakah travel check juga berlaku.
- Hubungi kontak person di negara setempat seperti teman, saudara atau rekan bisnis. Minta agar mereka mengirim kabar tentang hotel yang harganya terjangkau.
- Hitung perbedaan waktu antara negara tujuan dengan Indonesia. Ini penting untuk melakukan hubungan telepon secara normal atau persiapan menghadapi jetlag karena perbedaan waktu tersebut.
- Periksa masa berlaku paspor. Minimal masa berlaku untuk dua tahun. Ada beberapa negara yang tidak menerima sekalipun masa berlaku paspor masih satu tahun.
- Sebulan atau paling lambat dua minggu sebelum berangkat segera urus visa ke kedutaan negara yang akan dituju. Tiap-tiap kedutaan punya hari pengerjaan yang berbeda. Ada yang dua atau tiga hari kerja, ada juga yang menyediakan pengerjaan kilat, satu hari kerja. Ini tentu dengan biaya mahal.
- Cari buku panduan bahasa setempat. Ini penting karena kita bisa tahu kata-kata dan idiom yang jamak dipakai masyarakat setempat seperti ucapan terimakasih, apa kabar, dari mana, berapa harga barang ini, tolong, sampai jumpa dan masih banyak lagi.
- Cari tahu musim apa yang tengah berlaku di negara yang akan dikunjungi, apakah musim semi, gugur, panas atau musim dingin. Ini untuk menyesuaikan pakaian yang akan dibawa.
- Lakukan pemesanan tiket sebulan atau lebih sebelum hari keberangkatan.
- Pelajari peta lokasi, sebab dengan cara ini bisa tahu tempat-tempat yang mudah dijangkau, seperti resto, hotel, rumah sakit, pom bensin dan kantor polisi.
- Pelajari jam buka pusat perbelanjaan atau pertokoan dan pusat wisata. Di Eropa rata-rata buka mulai jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Kecuali bar dan cafe bisa buka sampai larut malam.
- Pesan kamar hotel yang akan dituju, jangan lupa siapkan nomor kartu kredit yang nantinya akan diminta oleh petugas hotel lewat telepon. Pastikan mendapat potongan harga atau diskon saat reservasi.
- Jangan terlalu banyak membawa barang, perkirakan pakaian yang dibawa cukup.
- Beli pakain dalam dari kertas atau disposable, hingga tidak repot-repot untuk membawa pakaian kotor.
- Jika membawa uang kontan, simpan di tas khusus yang bisa diikat di bagian pinggang.
- Bawa obat-obatan pribadi. Khususnya obat sakit kepala. Di Eropa dan Amerika obat sakit kepala hanya diberikan dalam dosis sangat kecil. Biasanya bagi orang Indonesia – yang terbiasa sedikit-sedikit minum obat pusing – dosis tersebut tidak bisa menyembuhkan dan ini malah membuat perjalanan jadi tidak nyaman. Bawa pula obat diare, karena makanan negara setempat belum tentu pas dengan kebiasaan pencernaan Anda. Sebaiknya, sertakan surat dari dokter yang menegaskan bahwa Anda berhak membawa obat-obatan tersebut.
- Film dan memory card untuk foto sesuaikan dengan hari perjalanan dan tempat-tempat yang dituju. Untuk perjalanan 3 hari minimal bawa 10 rol. Untuk perjalanan seminggu minimal 24 rol. Dalam perjalanan ke luar negeri sebaiknya jangan pelit memotret. Karena belum tentu ada kesempatan kesekian kali bisa kembali ke tempat tersebut.
- Kalau satu keluarga dengan dua anak, bawa satu kopor besar. Untuk cepat mengenali kopor yang dibawa, tidak ada salahnya menempelkan berbagai stiker dari negara-negara yang pernah dikunjungi pada badan kopor. Karena banyak kopor yang serupa dan sering penumpang salah ambil.
- Buat daftar kunjungan seperti contoh berikut:
o Lokasi wisata Belanda
o Amsterdam - menginap semalam
o Madurodam - keliling sebentar
o Utrecht - naik kereta 1 jam
o Den Haag - perkampungan nelayan Scheveningen
o Rotterdam - naik menara Euromast
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist. Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)


Kiat Hemat Berkeliling Eropa


- Eurailpass adalah jawaban tepat untuk perjalanan hemat. Tiket ini berlaku tanpa batas dan dipergunakan di 17 negara Eropa, termasuk Austria.
- Selain harga tiket yang relatif murah, Eurail ini sangat mudah digunakan. Anda hanya diharuskan untuk membaca Eurail Travel's Guide dan Guide Timetable yang diberikan saat pembelian tiket.
- Penting untuk Anda ketahui bahwa selain kereta api, tiket Eurail Selectpass, Eurailpass, Europass memberikan macam-macam bonus, seperti pemakaian sarana-sarana transportasi tertentu berupa kapal atau bus secara gratis ataupun dengan potongan harga.
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D – Sexologist, Pschoanalyst, Graphologist, Marriage & Family Therapist. Untuk konsultasi, hubungi di 087881705466 atau pin 2849C490. :)

Tuesday, July 31, 2012

Snob

Kafein. Saya suka dengannya – baik yang terdapat di teh, apalagi kopi. Dan saya suka menikmatinya di dalam cangkir atau mug dalam suasana hangat: karena airnya panas, cuaca sejuk dan banyak orang lalu lalang. Jika di rumah, saya meminumnya di teras atau di meja kerja yang menghadap jalan depan rumah. Saya bisa melihat dari tukang sampah, nenek penjual gorengan, dan gadis penjual jamu gendongan yang kini memakai rok jins. Kalau di Yogya, saya akan nongkrong di warung angkringan dan ngobrol dengan tukang becak dan Pak Guru – sahabat saya yang mengajar di Kolese De Britto. Kalau di mall, saya akan memilih cafe yang punya kursi yang menghadap gang. Intinya, saya suka sekali mengamati orang yang lalu-lalang.
Jadi, saya tak tahu, apakah saya kecanduan kafein atau addicted to observe somebody.

***


Seperti biasa, siang itu walau belum makan siang, saya mampir ke cafe di sebuah mall baru di kawasan Jakarta Selatan – yang persis sebelah kirinya juga mall yang tak kalah mentereng dan tanah kosong di sebelah kanannya tengah dibangun mall yang katanya bakal kelar pada Lebaran tahun ini. Boleh jadi, itu bagian dari usaha Indonesia untuk meraih Guinness World Records sebagai negara yang paling banyak memiliki mall.
Waitress cafe itu tersenyum kepada saya, dan mempersilahkan saya duduk di meja yang entah ke berapa ratus telah saya duduki. Saya membuka laptop dan segera tersambung ke dunia Web. Tetapi, masih seperti biasa, kedua telinga saya sengaja mendengarkan obrolan di meja-meja lain, dan ujung mata saya mencuri pandang siapa saja yang tengah mengobrol.
Tiga orang ibu yang berumur akhir 20-an, tiga orang baby sitter – yang dua berseragam biru muda dan satu berbaju pink – dan tiga orang balita. Yang dua montok, dan yang satu, saya yakin, kelebihan berat badan. Ketiganya didudukkan di stroller. Sesekali, jika rewel, sang baby sitter menggendongnya atau mengajaknya berjalan-jalan.
Ibu-ibu muda itu kemudian mengeluarkan laptop masing-masing; semuanya merek-merek yang punya model dan warna yang disukai perempuan. Ibu yang membawa ruffle duffel bag Ossie Clark berwarna biru kemudian dengan cepat mengetikkan sesuatu – yang dari percakapan berikutnya baru saya ketahui kalau ia memiliki blog tentang parenting. Kawan di depannya yang rambutnya tak kalah cantiknya – saya hanya bisa melihat punggungnya karena ia membelakangi saya – asyik berbalas-balasan dengan Yahoo Messenger dan sekaligus membukai Facebook. Sedangkan perempuan di ujung meja yang mengenakan hand printed dress kombinasi warna hitam dan biru karya disainer Anna Sui lebih banyak mengomentari apa yang tengah ditulis dan dibaca oleh kedua temannya. Dari dialah, sesungguhnya, saya berhasil menguping; termasuk apa saja makanan kesukaan mereka.
***

Kebetulan, dua orang kawan saya yang seharusnya menemui saya siang itu, masih terjebak kemacetan. Saya terpaksa menunggu lebih lama – tambah hampir dua jam. Namun saya mensyukurinya karena ‘informasi’ yang saya peroleh dari ketiga perempuan cantik itu makin lengkap.
Mereka pun akhirnya beranjak hendak meninggalkan cafe itu. Bukan hendak pulang, melainkan kembali berbelanja. Rupanya, selain untuk makan siang, mereka rupanya hendak mengistirahatkan kaki-kaki jenjang mereka yang lelah.
Tepat dua setengah jam saya ‘mengenal’ mereka dan ‘keluarga’nya: ketiga baby sitter yang cakap dan tiga balita yang ‘tenang.’ Dua setengah jam pula saya melihat tiga ibu muda yang tak sedetik pun memandang, apalagi mengelus, lebih-lebih menggendong anaknya. n Dono Baswardono (dono.baswardono@gmail.com)

Tuesday, July 17, 2012

LOVENOMI

LOVENOMI




“Berapa besar cintamu kepadaku Mas?” tanya seorang istri sambil membaringkan kepalanya di pangkuan suaminya. “Wah, tak bisa diukur,” jawab lelaki itu dengan enggan dan tak mau mengalihkan matanya dari berita pertarungan pemilihan Calon Presiden di koran yang tengah dibacanya. “Sebesar gunung Pangrango?” rajuk perempuan itu. Sambil menarik nafas panjang dan sedikit menggeserkan korannya, pria berotot itu menimpali, “Cinta tak bisa diukur, kau tahu... Tuh, anakmu bangun. Susui sana!” Suara tangis bayi melengking, seakan memanggil orang-orang terkasih untuk datang. Tak sampai lima detik, suara tinggi itu berhenti, dan pria itu kembali tenggelam dalam arus ribuan huruf.
Tiga belas tahun kemudian, pasangan itu telah memiliki tiga anak. Lima malam dalam seminggu, rumah itu ditiduri empat orang, setelah sang Ibu pulang dari kantor. Dan pada akhir pekan barulah lengkap menjadi lima orang, bila sang ayah pulang dari perjalanan bisnisnya sebagai wiraniaga – menjual karpet dari satu kota ke kota lain.
Tepat setelah Hari Pahlawan, sang istri ingin membuat pesta ulang tahun kejutan bagi lelaki yang bukan hanya setia, tetapi juga penuh pengabdian pada keluarga itu. “Yang telah menghabiskan hampir semua waktunya untuk mencari nafkah bagi keluarga ini,” begitu ia memuji suaminya di hadapan para sahabat dan keluarga yang meramaikan halaman mungil mereka.
Usai makan siang mereka bercengkerama, dan sang ayah ingin membanggakan ketiga anaknya di hadapan tetamu. Si bungsu perempuan tak pernah lepas dari pangkuannya, dan kedua anak lelakinya yang beranjak remaja terus menerus duduk di kedua sampingnya. Sesekali kedua tangannya merentang, merangkul mereka. Menoleh ke kanan, ia bertanya kepada si sulung yang sudah kelas enam SD, “Apa cita-citamu nak?”
“Sopir truk!” jawabnya dengan lantang dan mimik penuh kebanggaan.
Semua tamu yang mendengarnya terdiam, sementara muka sang ayah memerah.
Seakan tak percaya akan apa yang didengarnya, ia mengulang jawaban anaknya, “Sopir truk? Bukan dokter atau insinyur?”
“Ya, sopir truk!” bahkan kini senyum paling manis terkembang di bibir anak lelaki itu.
“Mengapa?” tanya ayahnya dengan suara bergetar yang dipenuhi rasa khawatir.
“Supaya aku bisa berlama-lama bersama ayah. Ke mana pun ayah pergi, aku akan antar ayah.”
Hening. Bahkan kupu-kupu pun berhenti berkepak.
***

Tiga puluh lima tahun kemudian, keriput menghiasi seluruh jengkal kulit pria itu. Punggungnya tak tegap lagi. Istrinya tak lagi bisa bersandar di dadanya; bahkan, boleh jadi, telah belasan tahun tak lagi melakukannya. Ia bersimpuh, menekuk lututnya, berdoa kepada Sang Mahakasih. “Allah, aku rindu akan anak-anakku. Aku ingin mendengar tawa mereka. Aku ingin melihat senyum mereka. Lebaran kemarin, juga lebaran sebelumnya, mereka tak datang ke rumah ini. Apa salahku, ya Tuhan, hingga mereka memperlakukanku seperti ini? Telah kuhabiskan seluruh waktuku agar mereka bisa makan enak, berbaju bagus, naik mobil, dan semua telah menjadi sarjana lulusan luar negeri, namun mengapa mereka bahkan tak mau menelponku?”
Dinding kamar membisu, lembab. Basah oleh air mata.
***

Lovenomi. Ekonomi cinta. Ya, semua menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang tak bisa diukur. Tetapi mengapa 13 tahun, 20 tahun, dan bahkan 60 tahun masa kehidupan kita habiskan untuk menjejerkan mobil di garasi, lemari penuh baju pesta dan kerja namun nyaris tak satu pun pakaian tercoret spidol anak-anak, rak dengan puluhan bahkan ratusan sepatu tetapi bahkan sepatu kets pun tidak bernoda lumpur, halaman dipenuhi dengan pot tanaman berdaun seharga puluhan juta Rupiah yang membuat Anda membentak anak-anak jika lewat di dekatnya, dan kulkas penuh makanan hingga dagingnya tak lagi segar bila dibikin soto sulung kesukaan si bungsu?
Kita bilang kita cinta si sulung maka kita sekolahkan dia ke sekolah terbaik, kita masukkan dia ke kursus macam-macam, kita sediakan sopir dan mobil khusus untuk mengantar jemput dirinya. Apatah itu bukan timbangan cinta kita? Dan si sulung menghitung dalam hati, “Sepanjang aku sekolah, dari SD sampai doktor, hanya 27 jam ayah bersamaku: masing-masing setengah jam setiap kali mengambil rapor SD, SMP dan SMA, dan masing-masing satu jam menghadiri wisuda.”
“Kami tak membeda-bedakan cinta,” begitu semua orangtua menegaskan. Maka, si tengah dan si bungsu pun mendapatkan kasih sayang yang melimpah ruah: sepatu branded, buku komik dan pengetahuan yang memadati lemari kamarnya, dan meja makan yang berlimpah. Dan si bungsu menera, dari dasar hatinya, “Berapa meter sepatu itu kulangkahkan bersama-sama ibu dan ayah? Berapa lembar halaman buku yang kubaca bersama dengan ibu dan ayah? Berapa piring makanan yang kuhabiskan bersama ibu dan ayah?”
***

Kebanyakan orang memiliki rentang karir antara 40 sampai 60 tahun. Kebanyakan ahli manajemen sependapat bahwa rata-rata pendapatan orang di paruh kedua karirnya mencapai hampir dua kali lipat dari yang diperolehnya pada paruh pertama.
Sebagai perbandingan, orangtua biasanya hanya mempunyai 20 hingga 25 tahun “berperan aktif sebagai orangtua.”
Meskipun begitu, kebanyakan orang memilih untuk lebih menekankan pada pekerjaannya selama paruh pertama karirnya, daripada fokus pada keluarganya. Itu artinya, ia mengorbankan anak-anak dan keluarganya, padahal tidak terlalu banyak kemajuan dalam karirnya.
Bagaimana kalau Anda menimbang alternatif lain? Fokuskan pada keluarga Anda selama 20 tahun pertama karir Anda, baru kemudian kerahkan seluruh waktu dan energi Anda untuk bekerja, setelah Anda lebih bijaksana, lebih terampil, dan paling produktif!
Dr. Dono Baswardono, Psych, Graph, AISEC, MA, Ph.D

Tuesday, July 10, 2012

5 Cara Gampang Memilih Calon Gubernur

5 Cara Gampang Memilih Caleg dan (Cabup, Cagub) Capres

Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk menonton sinetron? Atau gosip artis? Paling tidak 90 menit kita habiskan untuk menonton satu pertandingan Liga Champion di TV berbayar. Tetapi, mari bertanya kepada diri sendiri, berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk memperhatikan iklan partai, iklan caleg, atau menimbang-nimbang janji-janji mereka?

Kalau kita memang peduli pada masa depan negeri ini, pls read them carefully! Lima atau sepuluh menit dari waktu Anda akan sangat menentukan masa depan kita semua.
Nah, selama sepuluh menit itu, apa saja yang musti kita tanyakan?

1. Apakah si calon (legislator, bupati, gubernur atau presiden) memiliki segudang kebijaksanaan dan penalaran untuk duduk di Senayan atau Istana? Ragam dan kualitas pengalaman seperti apa yang ia miliki? Apakah tiap calon itu mempunyai kecakapan-kecakapan baru dan penting, pendidikan dan pengalaman yang komplementer dibandingkan dengan calon yang sekarang tengah berkuasa?

2. Apakah pesan kampanye si calon ini sungguh-sungguh mencerminkan rencana-rencana kebijakannya? Apakah kebijakan-kebijakannya yang disampaikan melalui media (cetak, radio, selebaran, iklan, dll) itu memungkinkan kita untuk menimbang-nimbangnya sebagai kebijakan yang realistis? Apakah rencana kebijakan-kebijakannya itu sudah memperhatikan persoalan-persoalan yang menurut Anda penting, baik bagi Anda sendiri maupun bagi negeri ini? Apakah pesan kampanye dan kebijakannya itu cukup terinci sehingga kita bisa mengevaluasinya dengan baik, dan membandingkannya dengan proposal dari calon lainnya?

3. Apakah calon ini menyajikan pandangannya, misinya, kebijakan-kebijakannya, dan posisinya secara gamblang dan konsisten? Apakah ia teguh pada pesan utamanya?

4. Bagaimana cara calon ini mencitrakan dirinya kepada publik? Apakah pidato-pidatonya, wawancaranya, dan iklan-iklannya berdasarkan fakta-fakta? Atau, apakah informasinya disampaikan kepada publik secara kabur, tidak fair, tidak akurat, atau negatif? Apakah ia sudah menghindari pesan-pesan yang berdasar pada stereotip, kebencian, dan pemecah-belahan kultural?

5. Tidak peduli seberapa sinisnya Anda (juga saya), sudahkah kita bertindak untuk mencerminkan betapa beruntungnya kita karena telah menjadi warga negara Republik Indonesia? Sudahkah kita berusaha keras agar “melek” pemilu, agar menjadi warga negara yang “sadar” yang mau meluangkan sedikit waktu untuk menilai tiap calon secara cermat dan hati-hati: menimbang latar belakangnya, memeriksa rekam jejaknya, menilai perilakunya, dan mengevaluasi kebijakan-kebijakannya? Apakah kita siap untuk memberikan suara berdasarkan pemikiran, kesadaran dan niat jujur?

Selamat memilih.
Dr. Dono Baswardono, MA, Ph.D - Communication Strategist

Friday, June 15, 2012

TELITI SEBELUM MEMBELI

TELITI SEBELUM MEMBELI

Sebagian besar problem psikologis bersumber dari relasi pribadi dengan orang-orang terdekat. Misalnya, hubungan dengan mertua, hubungan dengan pasangan sendiri, hubungan dengan anak-anak.
Sebagian besar masalah itu bisa dikurangi atau bahkan dicegah. Salah satu caranya adalah mengamati dengan seksama perilaku pacar atau tunangan (Kalau Anda ortu dari seorang remaja, ya perilaku pacar anak Anda).

Perilaku itu ada dua, yang overt (tampak nyata) dan yang covert (yang tidak tampak namun bisa disimpulkan). Nah, jauh lebih penting memperhatikan yang covert, karena mencerminkan sekaligus alam sadar dan bawah sadar. Ini lebih asli. Sementara perilaku overt bisa saja dibuat-buat, direncanakan, diperhalus, dsb, karena memang sedang masa pacaran - masa untuk membuat tertarik seseorang dan lingkungannya.

Dengan mengamati perilaku covert, sekian bulan atau tahun kemudian, kita tak perlu bicara, "Hlo koq berubah ya? Dulu dia tidak begitu." Besar kemungkinan, dia memang dari dulu seperti itu, hanya saja mata kita tak awas, pikiran kita tertutup kabut, jiwa kita mabuk.

Bisa saja, pada saat pacaran ia tampak penyabar, namun sehari setelah pesta pernikahan saja, ia sudah marah. Dan seminggu kemudian sudah memukul.

Jadi, bagaimana cara mengamati perilaku covert itu? Susahkah? Sama sekali tidak. Hanya dibutuhkan pikiran yang mau bernalar lebih panjang saja. Hari misalnya, dikenal oleh pacar dan seluruh keluarganya sebagai pria periang karena suka bercanda. Tetapi tunggu dulu. Coba amati lebih dalam, bukankah pada saat kita bicara serius, ia juga meresponnya dengan bercanda? Belum selesai saya bicara soal, pentingnya kepedulian ayah pada anaknya, ia bereaksi dengan guyonan soal itu. Juga ketika saya bicara tentang teladan kejujuran ayah, belum ada setengah detik, ia membalasnya dengan candaan. Pacarnya, Shanti, yang sama-sama remaja sih senang dan makin cinta karena Hari selalu membuat suasana hatinya gembira. Namun, setelah menikah, Hari tak mau mengantar anaknya sekolah. Dan ternyata, Hari juga suka berbohong kepada Shanti, mulai soal lembur, kongkow-kongkownya dengan teman-teman lamanya, sampai soal jumlah gaji dan akhirnya perselingkuhannya.

Apakah Hari berubah? Tidak! Dari dulu ia memang orang yang tak bertanggung jawab - itu sebabnya ia tidak bisa diajak bicara serius. Dalam hal ini, bercanda adalah pertanda (perilaku covert) dari sifat suka lari dari tanggung jawab. Bercanda di sini juga sinyal atas mudahnya ia membohongi diri sendiri dan orang lain. Bercandanya Hari sesungguhnya adalah benteng atau yopeng atau kompensasi dari kurangnya rasa percaya dirinya.

Dan mari kita berkenalan dengan Bima yang bertunangan dengan Febby. Ia jelas bukan tentara atau polisi atau satpam karena tubuhnya kecil, kerempeng. Namun menurut Febby, Bima berhati besar. Ia selalu menjemput saat Febby pulang kuliah, dengan jip BMWnya yang gagah. Ia selalu menggandeng lengan Febby erat-erat, atau merangkulnya ketika melewati teman-teman Febby, apalagi jika ada cowok lain di sana. Bima pula yang antre membeli tiket bioskop dan menentukan film apa yang bakal mereka tonton. Membayar makanan dan memesan makanan di restoran, Bima pula yang melakukan - termasuk menentukan menu yang akan Febby makan. Febby yang sedari kecil ditinggal papanya kawin lagi tanpa menceraikan mamanya, merasa mendapat berkat luar biasa mendapatkan lelaki yang melindungi dan memperhatikan dirinya.

Kenyataannya? Bahkan pada malam pertama saja, Febby menangis berjam-jam - meski hanya dalam hati. Bima menuduhnya tak perawan karena sprei tidak berdarah. Keesokan harinya, Bima menghilang. Seminggu kemudian baru muncul dengan mulut bau bir. Dan itu pula hari pertama Febby ditampar. Febby menganggapnya sebagai wajar karena hati Bima masih kesal. Namun, tamparan makin sering mendarat, juga tendangan dan pukulan.

Setelah itu Febby baru mengingat-ngingat perilaku Bima saat pacaran yang sesungguhnya bisa dijadikan pertanda bahwa ia bisa melakukan kekerasan. Setiap kali diskusi, Bima tak mau dibantah. Saat menyetir mobil, ia lebih sering ngebut, dan balas membalap jika ada mobil lain melewatinya. Bahkan di tempat parkir pun ia tak bisa pelan. Bima juga suka mengomel jika waiter terlambat mengantarkan makanan. Komentar Bima pada lelaki lain - setinggi apa pun jabatan dan prestasinya - selalu merendahkan. Dan...otot tangannya kerap menegang saat berbantahan dengan siapa pun. Posisi kepalanya jadi kaku karena lehernya juga menegang. 


Nasi Telah Jadi Bubur?
"Kami sudah terlanjur menikah. Kami saling mencintai. Saya percaya, cinta akan mengubah dirinya. Waktu akan memperbaikinya menjadi pribadi yang lebih sehat dan matang."

Itulah kalimat yang sering dijadikan alasan untuk terus mempertahankan perkawinan. Juga alasan agama dan takdir. Namun, jangan lupa, siapa yang bertahan? Korban. Sementara si pelaku terus menyerang. Sampai kapan sanggup bertahan? Sampai kapan hidup dalam kepura-puraan? Betulkah itu bentuk dari kesabaran? Ataukah mau berdalih bahwa itu adalah salah satu bentuk rasa syukur? Jangan-jangan itu adalah kebebalan.

Nasi tak pernah menjadi bubur - kecuali Anda sendiri yang berniat memasak bubur. (tentang ini, saya akan tulis di kesempatan lain). 

Oh ya, sebelum salam damai sejahtera saya ucapkan, pertanyaan saya adalah, "Jika Anda sebagai orangtua atau saudara sudah melihat perilaku covert yang negatif dari calon suami/istri anak/saudara Anda, apa yang Anda lakukan?" Apakah Anda juga termasuk yang mengatakan. "Bagaimana lagi, mereka sudah saling mencintai?" (oh ya, ingatkan saya untuk bicara soal apa sebenarnya cinta itu di dalam rumah tangga, pada tulisan yang lain.) 

Semoga akhir pekan Anda penuh kasih :)

Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA. Ph.D - Marriage & Family Therapist
Untuk konsultasi pranikah, silahkan hubungi Intan di 0813-1641-0088

Thursday, June 14, 2012

Memaafkan

Anda tentu pernah mengucapkan doa serenitas atau paling tidak membaca kalimat penyemangat yang sesungguhnya berasal dari doa tersebut: "Terimalah apa yang tidak bisa kau ubah dan ubahlah apa yang kau bisa." Bagaimana prakteknya? Sebelum memraktekkannya, Anda musti tahu apa saja yang tidak bisa Anda ubah: orang lain, umur Anda dan (kematian), cara Anda dulu dibesarkan oleh orangtua, penyakit dan kecelakaan di dalam keluarga, dan di-PHK. Anda juga musti tahu apa yang sebenarnya bisa Anda ubah: reaksi Anda kepada orang lain, tujuan-tujuan Anda (baik target pekerjaan maupun tujuan hidup), harga diri dan rasa percaya diri Anda, cara Anda memperlakukan orang lain, dan cara Anda memperlakukan diri sendiri, serta apakah Anda mengomunikasikan KEBUTUHAN Anda kepada orang lain atau tidak. Bila kita sungguh-sungguh memahami dua aspek di atas, memaafkan akan jauh lebih mudah dilakukan. Mengapa? Karena, kalau kita benar-benar menyadari, sesungguhnya kedua aspek tersebut mengajarkan kepada kita untuk lebih berfokus pada diri sendiri, untuk mengubah diri sendiri. Memaafkan itu bukan berarti melupakan, seperti yang orang kerap bilang, "Aku sudah melupakannya koq, nggak apa-apa." Sebetulnya itu bentuk penyangkalan. Mengapa? Karena semua peristiwa yang sudah terjadi pada diri kita itu sudah tersimpan di otak, di memori. Anda pernah dipukul orangtua? Tak mungkin dihapus kan? Anda pernah dicerca pasangan? Kita tak mungkin kembali ke masa lalu untuk menghapusnya. Ya, memang jangan dilupakan. Yang perlu kita lakukan adalah MEMILIH RESPON seperti apa ketika kita mengingat (lagi dan lagi) hal yang menyakitkan tersebut. Apakah kita masih selalu marah, bersedih, kecewa, jengkel, berduka? Ataukah kita memilih untuk terus bersikap positif kepada diri sendiri? Anda terlalu berharga untuk mandeg menyesali yang sudah terjadi. Anda terlalu berharga untuk hanya meratap, sementara si pelaku cengengesan dan melanjutkan hidupnya dengan tenang. Jadi, Anda musti tunjukkan kepada mereka bahwa Anda mampu bersyukur, bisa tersenyum, bisa melanjutkan hidup, bisa berprestasi optimal, sungguh percaya diri. Titik. Habis perkara. Selamat pagi. Tuhan memberkati. :) Dono Baswardono

Monday, August 24, 2009

MARAH

MARAH

“Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” – Yakobus 1:20

Kemarin saya diundang makan larut malam oleh seorang kawan lama yang kini telah supersukses – jika ukurannya materi. Karena kantornya di pinggir selatan kota, saya di pusat kota, sementara lokasi restorannya di ujung utara, maka dia menjemput saya. Saat keluar pelataran gedung perkantoran saya, rupanya petugas parkir agak lamban sehingga palang pintu tak juga mengangkat sementara kawan saya sudah terlanjur menggerakkan mobilnya. Meski palang itu masih sekitar sepuluh centimeter dari kemilau bodi BMW X-5 – berkat kesigapan kaki kanan kawan saya untuk menginjak pedal rem – tak ayal gunung kemarahan kawan saya terlanjur meletus. Dibukanya jendela pintu mobilnya, dan sejuta sumpah serapah khas Suroboyo-an menguar ke segala penjuru udara. Dan kebetulan petugas parkir itu mukanya lugu – dan saya kira memang karakternya lugu – sehingga parasnya menampakkan rasa tak bersalah. Memandang wajah yang menurut saya teduh itu, kawan saya makin terbakar amarahnya, hingga ia hendak turun dari mobil.

Saya menyentuh lengannya dan berkata, “Kita sudah ditunggu kawan-kawan.” Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali menyetir dengan ‘gaya’ yang membuat saya terpaksa mencengkeramkan kedua tangan saya – diam-diam – di pinggiran jok, walau safety belt sudah terpasang kencang. Sepanjang perjalanan yang kira-kira setengah jam itu tak henti-hentinya ia mengumpat dan mengatai-ngatai petugas parkir itu, sekretarisnya, karyawannya, bahkan istrinya. Segala persoalan yang tak pernah dan tak perlu saya ketahui, ia ungkit-ungkit. Saya bersyukur, hubungan kami selama ini baik-baik saja, sehingga saya tak perlu batal makan lobster bakar.

***

Kita punya puluhan jenis perasaan. Tetapi hanya satu yang kecepatan menyalanya bahkan lebih cepat daripada bom, apalagi kalau dibandingkan dengan dinamit bersumbu panjang. Ya, kemarahan sangat mudah terbakar.

Coba saja cinta; bahkan cinta pada pandangan pertama. Sesingkat-singkatnya, perlu waktu beberapa menit; dari memandangi wajahnya sampai ketika hati Anda mulai dirambati rasa senang dan akhirnya berubah menjadi suka cita yang tak tergambarkan. Lagi pula, sepanjang kehidupan Anda, tentu baru satu-dua kali saja merasakannya.

Kebahagiaan? Oh, lebih lama lagi merasakannya. Mungkin perlu waktu berjam-jam, bahkan berbulan-bulan untuk bisa merasakannya.

Bagaimana dengan kesedihan? Juga perlu waktu untuk tumbuh di dalam hati kita. Bahkan, jika kita mendengar berita kematian orang yang paling kita cintai sekali pun. Pertama-tama, malah bukan rasa sedih, tetapi kaget, tak percaya, bahkan penyangkalan, sebelum akhirnya kesedihan itu mengeloni diri Anda.

Tetapi amarah memang lain. Ia sungguh-sungguh jenis ‘binatang’ lain. Anak Anda secara naluriah memegang pajangan berwarna merah menyala di sebuah toko, dan Anda langsung membentaknya. Lidah Anda merasakan tahu goreng yang terlalu asin dan telinga pembantu pun langsung berdengung mendengar kemarahan Anda. Suami atau istri mengucapkan sesuatu yang menurut Anda salah, bahkan jika hanya mengomentari sesuatu di televisi, maka gunung Semeru yang ada di dalam diri Anda mendadak meletus tanpa memberi amaran sama sekali.

Amarah punya kekhasan lain lagi: begitu meledak, sangat sulit menyumbatnya. Ia benar-benar bagai kawah yang lebar. Satu kata umpatan, seperti “J....k,” dengan superkilat diikuti oleh ribuan serapah, dan kata-kata bertekanan tinggi lainnya. Bahkan fisik Anda pun dengan supercepat diubahnya: detak jantung permenit bahkan mengalahkan seorang sprinter, nafas terengah-engah, mata memerah, bahkan badan Anda gemetar. Saat kemarahan mereda, Anda bahkan merasa sangat letih. Anda terduduk lesu, memandangi sekitar, melihat dengan mata sehat segala dampak dan efek samping kemarahan Anda – yang bisa membuat Anda menyesal, tetapi juga sebaliknya, bisa membuat Anda semakin dendam kepada pihak-pihak yang Anda anggap sebagai pemicu kemarahan Anda. Dan dendam ini bahkan bisa berlangsung puluhan tahun!

***

Sebagai konsultan, saya kerap menyaksikan ‘atasan’ – dari level tertinggi sampai terbawah – menembakkan senapan otomatis kemarahannya. Ternyata, kemarahan mereka itu sangat mempengaruhi kinerja perusahaan/organisasinya. Bahkan, dampaknya bisa diukur. Intinya, kemarahan, menimbulkan kerugian jutaan, bahkan miliaran Rupiah.

Sebagai konselor dan psikoanalis, sudah ratusan kali saya melihat hubungan retak, bahkan pecah berantakan akibat rasa marah yang tak terkendali. Hubungan istri dan suaminya, orangtua dengan anaknya, antarsaudara, juga dengan tetangga dan masyarakat. Ya, masyarakat kita memang bersumbu pendek – sejarah kita sangat penuh dengan kekerasan.

***

Tuhan tidak pernah melarang kita marah. Karena jika itu dilakukannya, sama saja dengan Ia melarang kita bernafas. Sama saja dengan Ia mengingkari karya ciptaNya sendiri.

Dia hanya meminta kita agar lamban dalam marah. Agar sumbu kita perpanjang. Ia meminta kita untuk mengendalikan amarah. Dan Dia sangat senang bila kita sanggup mengendalikan berkat perasaan yang Ia hadiahkan spesial buat kita itu.

Dia tahu kalau kita manusia biasa yang Ia lengkapi dengan rasa marah. Tetapi kalau kita menggunakan berkat-berkat kita yang lain, maka kemarahan itu bisa dikendalikan. Pergunakan telinga dan nurani kita: dengarkan dulu apa yang dikatakan orang sampai selesai, sebelum kita mengemukakan pendapat; dengarkan penjelasan anak sampai tuntas, sebelum menjatuhkan cap negatif ke dalam pikirannya; buka lebar-lebar hati kita seperti kita dulu membuka hati saat jatuh cinta kepada pasangan kita, sebelum menyerocoskan kata-kata yang lebih tajam dari pisau yang akan melukai dan meninggalkan borok di hatinya. DB