Sebelum memraktekkannya, Anda musti tahu apa saja yang tidak bisa Anda ubah: orang lain, umur Anda dan (kematian), cara Anda dulu dibesarkan oleh orangtua, penyakit dan kecelakaan di dalam keluarga, dan di-PHK.
Anda juga musti tahu apa yang sebenarnya bisa Anda ubah: reaksi Anda kepada orang lain, tujuan-tujuan Anda (baik target pekerjaan maupun tujuan hidup), harga diri dan rasa percaya diri Anda, cara Anda memperlakukan orang lain, dan cara Anda memperlakukan diri sendiri, serta apakah Anda mengomunikasikan KEBUTUHAN Anda kepada orang lain atau tidak.
Bila kita sungguh-sungguh memahami dua aspek di atas, memaafkan akan jauh lebih mudah dilakukan. Mengapa? Karena, kalau kita benar-benar menyadari, sesungguhnya kedua aspek tersebut mengajarkan kepada kita untuk lebih berfokus pada diri sendiri, untuk mengubah diri sendiri.
Memaafkan itu bukan berarti melupakan, seperti yang orang kerap bilang, "Aku sudah melupakannya koq, nggak apa-apa." Sebetulnya itu bentuk penyangkalan. Mengapa? Karena semua peristiwa yang sudah terjadi pada diri kita itu sudah tersimpan di otak, di memori. Anda pernah dipukul orangtua? Tak mungkin dihapus kan? Anda pernah dicerca pasangan? Kita tak mungkin kembali ke masa lalu untuk menghapusnya.
Ya, memang jangan dilupakan. Yang perlu kita lakukan adalah MEMILIH RESPON seperti apa ketika kita mengingat (lagi dan lagi) hal yang menyakitkan tersebut. Apakah kita masih selalu marah, bersedih, kecewa, jengkel, berduka? Ataukah kita memilih untuk terus bersikap positif kepada diri sendiri?
Anda terlalu berharga untuk mandeg menyesali yang sudah terjadi. Anda terlalu berharga untuk hanya meratap, sementara si pelaku cengengesan dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Jadi, Anda musti tunjukkan kepada mereka bahwa Anda mampu bersyukur, bisa tersenyum, bisa melanjutkan hidup, bisa berprestasi optimal, sungguh percaya diri. Titik. Habis perkara.
Selamat pagi. Tuhan memberkati. :) Dono Baswardono
Thursday, June 14, 2012
Memaafkan
Anda tentu pernah mengucapkan doa serenitas atau paling tidak membaca kalimat penyemangat yang sesungguhnya berasal dari doa tersebut: "Terimalah apa yang tidak bisa kau ubah dan ubahlah apa yang kau bisa."
Bagaimana prakteknya?
Sebelum memraktekkannya, Anda musti tahu apa saja yang tidak bisa Anda ubah: orang lain, umur Anda dan (kematian), cara Anda dulu dibesarkan oleh orangtua, penyakit dan kecelakaan di dalam keluarga, dan di-PHK.
Anda juga musti tahu apa yang sebenarnya bisa Anda ubah: reaksi Anda kepada orang lain, tujuan-tujuan Anda (baik target pekerjaan maupun tujuan hidup), harga diri dan rasa percaya diri Anda, cara Anda memperlakukan orang lain, dan cara Anda memperlakukan diri sendiri, serta apakah Anda mengomunikasikan KEBUTUHAN Anda kepada orang lain atau tidak.
Bila kita sungguh-sungguh memahami dua aspek di atas, memaafkan akan jauh lebih mudah dilakukan. Mengapa? Karena, kalau kita benar-benar menyadari, sesungguhnya kedua aspek tersebut mengajarkan kepada kita untuk lebih berfokus pada diri sendiri, untuk mengubah diri sendiri.
Memaafkan itu bukan berarti melupakan, seperti yang orang kerap bilang, "Aku sudah melupakannya koq, nggak apa-apa." Sebetulnya itu bentuk penyangkalan. Mengapa? Karena semua peristiwa yang sudah terjadi pada diri kita itu sudah tersimpan di otak, di memori. Anda pernah dipukul orangtua? Tak mungkin dihapus kan? Anda pernah dicerca pasangan? Kita tak mungkin kembali ke masa lalu untuk menghapusnya.
Ya, memang jangan dilupakan. Yang perlu kita lakukan adalah MEMILIH RESPON seperti apa ketika kita mengingat (lagi dan lagi) hal yang menyakitkan tersebut. Apakah kita masih selalu marah, bersedih, kecewa, jengkel, berduka? Ataukah kita memilih untuk terus bersikap positif kepada diri sendiri?
Anda terlalu berharga untuk mandeg menyesali yang sudah terjadi. Anda terlalu berharga untuk hanya meratap, sementara si pelaku cengengesan dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Jadi, Anda musti tunjukkan kepada mereka bahwa Anda mampu bersyukur, bisa tersenyum, bisa melanjutkan hidup, bisa berprestasi optimal, sungguh percaya diri. Titik. Habis perkara.
Selamat pagi. Tuhan memberkati. :) Dono Baswardono
Sebelum memraktekkannya, Anda musti tahu apa saja yang tidak bisa Anda ubah: orang lain, umur Anda dan (kematian), cara Anda dulu dibesarkan oleh orangtua, penyakit dan kecelakaan di dalam keluarga, dan di-PHK.
Anda juga musti tahu apa yang sebenarnya bisa Anda ubah: reaksi Anda kepada orang lain, tujuan-tujuan Anda (baik target pekerjaan maupun tujuan hidup), harga diri dan rasa percaya diri Anda, cara Anda memperlakukan orang lain, dan cara Anda memperlakukan diri sendiri, serta apakah Anda mengomunikasikan KEBUTUHAN Anda kepada orang lain atau tidak.
Bila kita sungguh-sungguh memahami dua aspek di atas, memaafkan akan jauh lebih mudah dilakukan. Mengapa? Karena, kalau kita benar-benar menyadari, sesungguhnya kedua aspek tersebut mengajarkan kepada kita untuk lebih berfokus pada diri sendiri, untuk mengubah diri sendiri.
Memaafkan itu bukan berarti melupakan, seperti yang orang kerap bilang, "Aku sudah melupakannya koq, nggak apa-apa." Sebetulnya itu bentuk penyangkalan. Mengapa? Karena semua peristiwa yang sudah terjadi pada diri kita itu sudah tersimpan di otak, di memori. Anda pernah dipukul orangtua? Tak mungkin dihapus kan? Anda pernah dicerca pasangan? Kita tak mungkin kembali ke masa lalu untuk menghapusnya.
Ya, memang jangan dilupakan. Yang perlu kita lakukan adalah MEMILIH RESPON seperti apa ketika kita mengingat (lagi dan lagi) hal yang menyakitkan tersebut. Apakah kita masih selalu marah, bersedih, kecewa, jengkel, berduka? Ataukah kita memilih untuk terus bersikap positif kepada diri sendiri?
Anda terlalu berharga untuk mandeg menyesali yang sudah terjadi. Anda terlalu berharga untuk hanya meratap, sementara si pelaku cengengesan dan melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Jadi, Anda musti tunjukkan kepada mereka bahwa Anda mampu bersyukur, bisa tersenyum, bisa melanjutkan hidup, bisa berprestasi optimal, sungguh percaya diri. Titik. Habis perkara.
Selamat pagi. Tuhan memberkati. :) Dono Baswardono
Labels:
forgiveness,
forgotten,
memory,
serenity prayer
Location:
Bandung, Indonesia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment